Showing posts with label automotive. Show all posts
Showing posts with label automotive. Show all posts

Friday, January 22, 2010

Siklus OTTO

Engine merupakan bagian utama dari kendaraan yang mengubah tenaga panas menjadi tenaga gerak (tenaga putar). Untuk membangkitkan tenaga tersebut, mesin bensin beroperasi berdasarkan Siklus Otto yang terdiri dari empat langkah yang merupakan 1 siklus, yaitu:

  • Langkah Hisap (Intake Stroke), yaitu memasukkan campuran udara+bahan bakar ke ruang silinder

  • Langkah Kompresi (Compression Stroke), yaitu memampatkan (mengkompresi) campuran udara+bahan bakar yang telah masuk di dalam silinder agar menjadi panas.

  • Langkah Pembakaran / Penyalaan (Combustion Stroke), yaitu memberikan api pada campuran udara+bahan bakar sehingga terbakar dan menimbulkan tenaga pembakaran.

  • Langkah Buang (Exhaust Stroke), yaitu langkah membuang sisa pembakaran untuk kemudian diganti dengan yang baru lagi melalui langkah hisap

Thursday, January 21, 2010

Bagian-bagian Kendaraan

Sebuah kendaraan adalah sebuah sistem besar yang terdiri dari beberapa sub-sub sistem lain, yaitu :


  1. Engine

    Engine adalah bagian kendaraan yang menghasilkan tenaga untuk kemudian diteruskan oleh Power Train sehingga dapat mengerakkan kendaraan. Engine terdiri dari beberapa bagian, diantaranya :


    1. Bagian Utama

      1. Bagian yang bergerak

        1. Piston Assembly (Piston Set)


        2. Crankshaft (Poros Engkol)


        3. Valve Mechanism (Mekanisme Katup)


        4. Flywheel (Roda Penerus / Roda Gila)



      2. Bagian yang tidak bergerak

        1. Cylinder Head (Kepala Silinder)


        2. Cylinder Block (Blok Silinder)


        3. Crankcase (Ruang Engkol)


        4. Paking



        5. Manifold





    2. Bagian Kelengkapan

      1. Ignition System (Sitem Pengapian)


      2. Fuel System (Sistem Bahan Bakar)


      3. Cooling System (Sitem Pendinginan)


      4. Lubrication System (Sistem Pelumasan)


      5. Manifold System (Sistem Pemasukan dan Pembuangan Gas)




  2. Power Train System (Sistem Pemindah Tenaga)
    Power Train System adalah bagian-bagian kendaraan yang meneruskan tenaga hasil pembakaran di ruang engine sampai ke roda-roda sehingga kendaraan dapat bergerak.

    Power Train System terdiri dari beberapa bagian lagi, yaitu :

    1. Clutch (Kopling) yang berfungsi untuk memutuskan atau meneruskan tenaga engine ke transmisi

    2. Transmission (Transmisi) atau Transaxale, berfungisi untuk mengatur tingkat kecepatan kendaraan.


    3. Propeller Shat (Poros Propeller/Gardan), berfungsi untuk meneruskan tenaga putaran dari transmisi ke differential.


    4. Differential (Gardan), berfungsi untuk mengubah arah putaran propeller shaft menjadi putaran maju atau mundur pada roda kendaraan.


    5. Axle Shaft (Poros Roda), berfungsi untuk meneruskan putaran propeller shaft ke roda.


    6. Wheel (Roda), yaitu bagian yang memungkinkan kendaraan dapat bergerak.



  3. Chasis System

    Chasis adalah bagian kendaraan yang berfungsi untuk menjaga kenyamanan dan kestabilan saat berkendara. Chasis terdiri dari beberapa bagian, yaitu :


    1. Steering System (sistem Kemudi) yang berfungsi untuk mengendalikan arah kendaraan.


    2. Braking System (Sistem Rem), berfungsi untuk mengurangi kecepatan atau menghentikan laju kendaraan.


    3. Suspension System (Sistem Suspensi), berfungsi untuk mendapatkan kenyamanan dan kestabilan saat berkendaraan.



  4. Engine Electrical System (Sistem Kelistrikan Engine)
    Sistem kelistrikan engine adalah sistem kelistrikan yang diperlukan untuk menghidupkan engine dan mengoperasikannya dengan cara yang stabil. Sistem ini terdiri dari beberapa bagian , yaitu :

    1. Battery, berfungsi sebagai sumber tenaga awal untuk menggerakan sistem starter.
    2. Starting System (Sistem Starter), berfungsi untuk menggerakkan engine untuk yang pertama kali sehingga engine dapat beroperasi.

    3. Ignition system (Sistem Pengapian), yaitu sistem penyalaan yang memungkinkan terjadinya pembakaran di ruang bakar.


    4. Charging System (Sistem Pengisian Baterai), yaitu sistem yang menjaga kapasitas baterai selalu dalam kondisi penuh.

    5. Indicator System, yaitu sistem yang memberikan peringatan atau informasi tentang bekerjanya sistem kelistrikan engine seperti indikator pengisian atau baterai.

    6. Sensor, yaitu sistem yang mendeteksi bekerjanya suatu komponen dan memberikan informasinya ke sistem pengolah informasi lain (Control Unit) sehingga didapatkan pembakaran yang sempurna sesuai kebutuhan.



  5. Body Electrical System (Sistem Kelistrikan Bodi)
    Sistem Kelistrikan Bodi adalah sistem kelistrikan yang dipasang pada bodi kendaraan. Sistem ini bersifat tambahan yang berfungsi terutama untuk menjaga keamanan dan kenyamanan saat berkendara. Artinya, kendaraan tanpa sistem ini masih dapat bergerak dengan baik. Namun karena alasan keamanan maka beberapa sistem ini menjadi wajib adanya.

    Sistem kelistrikan bodi terdiri antara lain :


    1. Sistem penerangan


    2. Wiper (Penghapus air pada kaca)


    3. Horn (Klakson)


    4. Air Conditioning (AC)


    5. Meter kombinasi dan Pengukur, terdiri dari meter-meter, pengukur, lampu peringatan, dan lampu indikator untuk menunjukkan informasi yang diperlukan oleh pengemudi untuk keamanan berkendara.

      1. Tachometer (indikator RPM)


      2. Speedometer (Indikator Kecepatan)


      3. Indikator suhu air


      4. Indikator Bahan Bakar


      5. Indikator Tekanan Oli


      6. Voltmeter (Indikator Tengan Baterai)




  6. Body System

    Bodi adalah bagian dari kendaraan yang membawa penumpang dan barang.


Friday, January 15, 2010

KNOWING TIRES

Tires are part of the vehicle in direct contact with the road. Therefore must have some requirements for ride comfort.

Function

  1. As part of the power train system so that the vehicle can run.
  2. As part of the braking system that allows to stop the vehicle.
  3. As part of the steering system that determines the direction of the vehicle.
  4. As part of the suspension system which allows the shock damping due to road conditions, which then suppressed again by the suspension, so get comfortable in driving.


Tire Type



  1. Bias Tires. Bias tire construction was stacked threads crossed each other. Number of plies more than the radial tire. Therefore, the bias tires can hold more weight and thus more widely used in commercial cars.
  2. Radial Tires. Radial tire is a tire yarn construction there is only one or two layers of stacked woven around the tires. Therefore, softer walls so that the radial tire more comfortable to wear and suitable for use in passenger cars. In the radial tire was also reinforced with a layer of the tread of steel wire. The effect, more stable control. This is different from bias tires that do not have steel in the tread.
  3. Light Van Radial Tire (LVR)LVR is a combination of tires bias tires, radial.



Tire compound

Tire compound means forming materials that the number of tires could reach hundreds of elements. Each manufacturer has a different compounds which may be quite difficult to do measurements. But if you want to know the hardness can be done by using a tensile meter.

Highway tire compound will usually softer than the tires for off-road. Trend road tires now is to use a soft compound tire. However, as the use of tires, this compound has aging (age consumed, red). Usually the tires so much harder because of the heat.

Then came the new technology, such as the so-called dual-layer tread. In this type, there are two types of compounds on the same tires, the 50 percent outside the original compound and underneath the softer compound.

Outside the compound will be further eroded as hard and usage. While inside the compound is like a half-baked. Because of aging, the tires so hard. Once the outer layer of the compound out, violence is the equivalent compound in a compound outside when new.



Age Use

There are six factors that can affect tire wear age.



  1. Weight. Each different car tires based on it consumption. In addition, the use of cars is often used alone or full load affects the age of the tire wear. Certainly, the age would be reduced by using a full load.
  2. Air pressure must be fitted. Less pressure to reduce 50% 78% aged tires.
  3. Tire rotation. Rotated tires properly aged longer useful life.
  4. False wheel alignment would make the tires wear out faster.
  5. Route. Concrete roads lead to higher wear than the asphalt.
  6. Driving habits. Speeding, zig-zag and often brake would make a faster tire wear.



Size



Size of tire is listed on the tire wall to show its size. Since nearly all cars are already using radial tire, the tire is only clues are discussed.





Suppose Size = 185/65R14



Mean,

185 = tire width (mm),

65 = 65% tire profile of the width of the tire,

R = radial

14 = rim diameter (inches).

Tuesday, January 12, 2010

Combi Brake System (CBS)



Combi Brake System (CBS) pada skutik baru Honda Vario CBS Techno pada prinsipnya dibuat untuk memudahkan pengendara melakukan pengereman yang lebih ideal. Ketika tuas rem belakang (tuas kiri) di tekan, secara otomoatis rem depan juga akan ikut melakukan pengereman. CBS sangat pas untuk pengendara yang hanya terbiasa menggunakan rem belakang. Dengan fitur ini resiko roda belakang mengunci bisa dikurangi karena rem depan juga ikut mengurangi kecepatan dengan proporsi yang ideal.
CBS Hanya Braking Assist (membantu pengereman)
Yang perlu diingat, karena bersifat membantu (assist), pengereman yang dilakukan oleh CBS tidak sepenuhnya ideal. Seharusnya pengereman yang benar lebih kuat di depan, proporsinya kurang lebih 60% di depan dan 40% di belakang. Namun di CBS proporsinya 65% di belakang dan di depan sekitar 35% (ketika tuas rem kiri saja yang ditekan). Dengan CBS kedua roda ikut berhenti meski proporsi rem depan belum sepenuhnya sempurna. Namun kemungkinan roda belakang mengunci tetap bisa dikurangi dan jarak pengeremannya juga jadi lebih pendek. Kemudahan ini tentunya sangat menguntungkan bagi pengendara pemula atau para wanita. Namun demikian meski menggunakan CBS, idealnya harus tetap belajar pengereman dengan baik dan benar (rem depan dan belakang) agar proporsi remnya bisa sempurna.

Cara Kerja CBS

Komponen terpenting pada CBS adalah adanya kabel penghubung antara tuas rem depan dan rem belakang yang disebut dengan kabel konektor. Dengan adanya kabel konektor ini, ketika rem belakang di tekan rem depan juga akan ikut tertekan.


Ketika tuas rem belakang ditekan, satu kabel dari tuas akan menarik equalizer yang bercabang ke dua kabel. Satu kabel langsung ke rem belakang dan satu kabel lagi ke kabel konektor. Kabel konektor ini akan menarik knocker untuk mendorong piston hidrolik di master rem depan.  Proporsi remnya tidaklah serta merta sama. Ketika tuas rem belakang ditekan sedikit yang berhenti hanya roda belakang. Makin dalam lagi menekan tuas rem belakang, rem depan baru akan mulai ikut melakukan pengereman. Makin dalam lagi sampai mentok, hanya rem belakang yang makin kuat pengeremannya (rem depan tidak nambah lagi).


Mekanisme di tuas rem depan dan belakang

Bila dihitung persentasenya, pada CBS ini rem belakang bisa mengerem dengan kemampuan maksimum sampai 100%, sedang rem depan hanya memiliki porsi sekitar 70%. Kalau daya cengkram rem depan mau ditambah hingga 100% tetap harus tekan tuas rem depan (tuas sebelah kanan).

Equalizer


Ketika menekan tuas rem belakang, pengereman CBS baru akan bekerja. Tapi kalau hanya rem depan saja, maka CBS tidak bekerja. Hal ini karena di master rem depan, knocker joint yang juga tersambung dengan rem belakang tidak bekerja seperti ketika tuas rem belakang ditarik. Yang ditawarkan CBS ini, lebih memfokuskan pengereman di sektor buritan alias rem belakang. Ada nama part yang disebut equalizer. Part inilah yang menghubungkan antara rem depan dan belakang melalui slink atau kabel besi layaknya kabel gas atau kabel rem sepeda. Letaknya, ada di hendel rem belakang (sebelah kiri).
Sedangkan di panel rem depan, hanya ada knocker dan knocker joint. Ketika menekan rem depan, konektor tersebut tidak akan bergerak. Tetapi ketika kita menarik rem belakang, maka konector joint itu juga akan menarik knocker di master rem depan. Makanya, langkah atau metode ini yang menyebabkan kedua rem bisa berfungsi. Tapi porsi kekuatannya, tidak akan melebihi jika kedua tuas rem ditarik secara bersamaan ketimbang hanya tuas rem belakang aja yang ditarik.
Selain itu, equalizer juga mengatur penuh jarak main tuas rem belakang sehingga jarak main tuas rem nggak kebablasan dan berfungsi seperti biasanya. Sehingga mekanisme CBS pada Vario Techno takkan mempengaruhi kerja rem depan bila kampas rem belakang mulai tipis. Artinya, tuas rem depan tetap akan tertarik seperti biasa tanpa harus ngelock, meski tuas rem belakang ditarik full.

Penggantian kampas rem belakang


Jika dirasa kampas rem sudah tipis dan perlu diganti, dapat diyakinkan dengan melihat posisi jarum penunjuk batas keausan atau batas penggantian kampas sebagai indikator ada di panel kampas rem belakang.
1.       Jika posisi jarum penunjuk sudah ada di belakang tanda atau melewati batas tanda pada saat tuas rem ditarik penuh, maka perlu untuk segera mengganti kampas rem belakang dengan yang baru.
2.       Tapi jika posisi jarum penunjuk masih ada di tengah, namun kemampuan pengereman belakang sudah mulai berkurang, maka disarankan untuk penyetelan ulang mur penahan batang pengait atau paha ayam yang ada di ujung kabel rem, sehingga jarak main tuas rem belakang akan kembali seperti semula dan nggak terlalu dalam.
Untuk penggantian kampas rem belakang baru CBS Techno disarankan untuk menyeting ulang mur penyetel (adjuster) knocker joint yang ada di bagian bawah master rem. Hal ini perlu dilakukan, sebab saat ganti kampas rem belakang semua peranti harus dicopot, termasuk mur adjuster. Tujuannya agar proses pemasangan lebih mudah dan ketika dipasang kembali, jarak main knocker joint sudah pada posisinya.
Mengingat jarak main knocker joint dengan equalizer sangat mempengaruhi kemampuan kerja CBS secara keseluruhan, pastikan bahwa setingan mur adjuster sudah tepat. Jika tidak yakin, maka serahkan pad ahlinya.

Referensi :

Why the exhaust valve setting more distantly spaced?

Intake valves fed by fuel-air mixture so that the expansion or hot is going on around the intake valves, smaller than the exhaust valve. In the exhaust valve fed by the hot gases of combustion remaining. Therefore rift between the valve stem with a hammer throw was made further. The assumption, when the excessive heat did not make the distance closer. If the distance made more meetings, there is the possibility of the engine so hard to live. This is due to continue pressing the trigger valve so that the valve continues to open that resulted in the leakage of compression. This means there is no pressure that allows the combustion in the engine. In some motors applied the same suit rift between the intake valve and exhaust valve of, but not all. Especially for the motor has to apply compression on a 9: 1. That's because high compression engines usually heat faster than low compression motor.

Oli Matik Vs Oli Mobil

Meski sama-sama katagori oli kopling kering, bukan berarti oli mobil bisa dipakai buat motor matik. Perlu diingat, prinsip spek pelumasan tentu menyesuaikan kebutuhan mesin yang dilumasi. Dengan asumsi itu, keduanya dirancang untuk fungsi yang berbeda.

Jika dikatakan oli mobil bisa dipakai untuk motor matik, sebenarnya memang bisa. Tapi karena peruntukannya berbeda, pasti ada kekurangan yang akan terjadi. Salah satu perbedaanya, mesin motor mempunyai tingkat stress yang lebih tinggi dari mobil. Putaran mesin mobil tak setinggi motor yang bisa tembus di atas 10.000 rpm. Perbedaan kebutuhan tersebut yang kemudian membuat ramuan pelumas yang berbeda pula. Bisa saja dari paket aditif atau formulanya. Inilah yang menentukan peruntukan oli.

Pemakaian oli yang tidak sesuai peruntukan, bisa menimbulkan efek. Salah satunya, terjadi oksidasi yang lebih cepat sehingga performa oli menurun lebih cepat dari seharusnya. Hal ini bisa timbul diakibatkan panas yang berlebih dari mesin motor itu.
Salah satu cirinya bisa dilihat lewat viskositasnya. Biasanya oli akan menjadi lebih kental. Ini berbeda dengan oksidasi yang karena tercampur oli air. Jika oli yang sudah teroksidasi itu tetap digunakan, akan merembet ke daya tahan spare-parts. Hali tersebut dikarenakan kemampuan atau performa oli untuk melindungi dan melumasi sudah berkurang.
Penulis/Foto : Chuenk, Eka/Boyo

:. Oli Skubek Vs Oli Bebek

Pelumasan mesin skubek dan motor biasa berbeda, sebab motor matik menggunakan sistem kopling kering dimana kerja oli hanya melakukan pelumasan pada kruk as (crankshaft), mekanisme klep (Valve mechanism) dan silinder aja. Berbeda dengan motor kopling basah di motor biasa, oli ikut melumasi kopling. Oleh karena itu pada sistem kerja kopling basah dibutuhkan oli yang memiliki high friction (ketahanan terhadap gesekan yang tinggi). Sehingga, tidak membuat kampas kopling selip karena terlalu licin.
Sementara, untuk skubek atau motor matik, bisa diterapkan oli low friction atau rendah gesekan, karena tidak khawatir dengan selip kopling namun lebih licin. Sehingga rendah gesekan dan mampu menghemat bahan bakar.
Adaptasinya desain oli untuk matik terhadap spesifikasi low friction itulah yang jadi dasar munculnya oli khusus skubek. Meskipun dengan oli biasa, skubek masih juga bisa menggunakannya. Tapi sebaliknya, motor biasa tidak bisa memakai oli matik karena akan mengakibatkan selip kopling.
Salah satu unsur yang membuat oli matik low friction adalah bahan tambahan pada bahan pencampuran produksi oli. Sejumlah klaim produksi oli matik, biasanya disebutkan materi tambahan yang membantu penyempurnaan tingkat gesekan. Misal, Enduro Matic produksi Pertamina, yang mengandalkan moly diklaim mampu merendahkan gesekan pada part engine sehingga makin licin sekaligus menyempurnakan kerja mesin matik.
Salah satu cara mudah untuk membedakan mana yang katagori low friction, bisa lihat standar yang sudah diuji lembaga riset oli. Salah satu patokannya adalah yang sudah diakui Japanese Automobile Standards Organization (JASO). Lembaga ini sudah memisahkan katagori non slipping oli (MA) dan slipping oli (MB). Jadi jelas, kalau untuk kebutuhan oli matik jelas lebih sesuai memilih MB.
Berkait dengan soal viskositas alias kadar kekentalan oli yang digunakan, rekomendasi spek standar pabrikan bervariasi. Misal Yamaha yang menggunakan Yamalube 20W40 atau Suzuki dengan SGO 20W50. Sedang standar skubek Honda 10W-30.
Dilihat dari perkembangan teknologi desain mesin, memungkinkan mengaplikasi oli lebih encer dari rekomendasi. Tapi harus diingat, kualitas oli encer tersebut harus benar-benar bagus secara spek. Selain itu penggantian oli teratur yang tidak melebihi batas. Apalagi, skubek termasuk motor baru. Clereance pada mesin masih presisi. Sehingga dengan oli lebih rendah viskositasnya, malah menjadikan signifikan terhadap performa mesin. Lebih enteng dan efeknya malah bisa jadi lebih irit.
Terkecuali pada mesin yang sudah tua dengan clereance yang sudah lebih besar, tentu malah sebaliknya yaitu memerlukan oli yang lebih kental. Paling tepat tentunya adalah mengikuti standar pabrik, baik itu dari segi kekentalan dan standar API Service-nya.

Penulis : Chuenk, Eka/Dok. Motor Plus
http://motorplus-online.com

Monday, January 11, 2010

Ciri Klep Racing






Batang katup kecil
Ringan dan kecil gesekan
Kerja pegas katup ringan, Bos katup jadi kecil dan tidak menghalangi aliran gas di lubang porting
Tahan pukulan
Dibuat dari bahan ringan seperti titanium
Harga relatif mahal
Tahan magnet
Tidak mudah dihinggapi kotoran seperti serbuk atau geram besi
Cocok untuk katup buang, sehingga sisa pembakaran tidak menempel
Sudut batang klep tajam
Tidak menghalangi aliran gas

Batang pada ujung katup mengecil
Ketika katup membuka, batang kecil tepat posisinya di tengah lubang porting

Permukaan dalam payung dan batang katup kasar
Agar gas bakar tidak mengembun dan kotoran mudah lepas
Sama kasarnya dengan lubang porting




Sunday, January 10, 2010

Pelatuk Klep Modern Vs Konvensional


Sudah banyak teknologi yang dibuat pabrikan motor untuk efisiensi gesekan. Salah satunya, rocker-arm atau yang lebih familiar disebut pelatuk klep. Tiga model penggerak untuk menaik-turunkan batang klep ditawarkan yaitu Model konvensional, roll rocker-arm dan sim. Masing-masing memiliki kelebihan diaplikasi pada setiap modelnya.
Model konvensional umum diaplikasi di motor massal. Lalu, pengembangan mulai berlanjut ke arah pelatuk model roll rocker-arm atau disebut sistem roller. Contoh diaplikasi di Honda Karisma. Lalu, adalagi tipe sim klep. Model ini diaplikasi di Honda CBR150 atau Suzuki Satria F-150 atau Kawasaki Ninja 250.
Seperti disebut di atas, pastinya ada kelebihan yang dibawa setiap teknologi terbaru atau setiap inovasi.

Untung-Rugi Model
1.       Model Konvensional
-          Berbentuk seperti sepatu.
-          Ketika kem menekan pelatuk, daya gesek yang dialami cukup besar, apalagi ketika kem sudah mengalami modifikasi di bubungan (camlobe). Hasilnya kem tidak rata, dengan model roller bisa diatasi.
-          Biasanya diaplikasi di motor bertipe mesin SOHC (Single Overhead Chamshaft) atau mesin dengan nokes as tunggal.

2.       Model Roll Rocker-arm
-          Model roller punya part penekan kem berdimensi bola bearing.
-          Ketika noken-as berputar menekan pelatuk, friksi yang dialami noken-as dan pelatuk jadi minim.
-          Pelatuk juga lebih ringan dan mudah digerakan.
-          Pelatuk roller lebih bersifat mampu mengurangi panas di kepala silinder sehingga mesin nggak gampang overheat. Juga tidak perlu khawatir kalau oli mesin di kepala silinder berkurang, karena panas dan friksinya nggak seperti pelatuk biasa.
-          biasanya diaplikasi di motor bertipe mesin SOHC

3.       Model shim
-          Pada model ini tidak menggunakan baut dan mur penyetel batang klep.
-          Model shim bentuk part tidak lagi seperti pelatuk, melainkan seperti pil obat (bulat) yang dilindungi topi sim. Sim ini ada di ujung batang klep di tengah per klep. Nantinya, bakal menekan batang klep begitu topi klep ditekan noken-as. Untuk mengatur celah klep, biasanya dengan mengganti sim ini pakai ukuran beda. Kalau mau lebih rapat pakai sim yang tebal.
-          Hasilnya friksi dan panas menjadi minim dan kinerjanya juga lebih stabil.
-          Banyak diaplikasi di motor kapasitas besar atau tipe mesin DOHC (Double Overhead Chamshaft) atau mesin dengan nokes as ganda.
 Model roller, efisien BBM dan panas mesin

SETELAN KERENGGANGAN

Bicara kerenggangan klep, umumnya pelatuk klep model roller dan sim bisa lebih rapat ketimbang konvensional. Tapi, seberapa besar kerenggangannya tergantung dari spek mesin.
Oh ya! Sekadar masukan! Ketika melakukan penyetelan klep, baiknya jangan terlalu rapat. Itu karena ketika mesin panas, baut dan mur penyetel bakal memuai. Karena pemuaian, jika terlalu rapat, maka baut itu bakal menekan lebih ke batang klep. Jika dibiarkan, akan berakibat kebocoran kompresi. Akhirnya selain kompresi, usia pakai komponen juga bakal berkurang dan boros BBM
 
Setelan klep jangan rapat

SISTEM KERJA PELATUK

Pelatuk klep bekerja setelah digerakkan oleh bubungan noken-as (camlobe). Ketika kem berputar, rocker-arm bakal mengikuti kinerjanya, naik-turun menekan batang klep. Itu artinya, klep bergerak tergantung dari putaran kem.


Friday, January 1, 2010

PRINCIPLE OF MEASUREMENT

Measurements in the field of engineering, especially in the automotive world has a significant role, especially for the purposes of inspection and overhaul or replacement of parts of a moving vehicle. Measurements were taken, of course, is to find size. Important points in the measurement is to obtain the difference in size as a standard. Keep in mind that parts of vehicles, especially moving, each having a standard size and the allowed limit is made by the manufacturer. Because of the use, of course these parts will have wear and tear or damage, and affect the performance of vehicles that needed repair or replacement of these components. Here the measurement function to check the extent of wear or damage that may be determined steps to improve them.

There are many measurement tools, each of which has its own purpose. In his own field of engineering, especially mechanical engineering and automotive, there are also lots of variety. Here I'll share with you about ways to use some common measurement tools used in lathe work, and automotive. My expectations may be helpful for anyone who wants to learn. To download it please click on the link below.

1. Vernier Caliper :
- http://www.ziddu.com/download/7903951/JangkaSorong.doc.html (Bhs Indonesia)
- http://www.ziddu.com/download/7903539/JangkaSorong.pdf.html (Bhs Indonesia)

2. Micrometer :
- http://www.ziddu.com/download/7904023/Micrometer.doc.html (Bhs Indonesia)
- http://www.ziddu.com/download/7903538/Micrometer.pdf.html (Bhs Indonesia)

3. Cylinder Gauge:
- http://www.ziddu.com/download/7904024/ModulCylinderGauge.doc.html (Bhs Indonesia)
- http://www.ziddu.com/download/7903540/ModulCylinderGauge.pdf.html (Bhs Indonesia)